Cerita Misteri Perempuan Berbaju Putih di Seberang Jembatan Besi, bagian 4

https://hiburanwe.blogspot.com/2025/01/4-misteri-perempuan-berbaju-putih-di.html
“Kasihan, nih, anak, mudah-mudah tidak tergoda,” gumam si Kakek menatap punggung Dirman yang telah kembali melaju di atas motornya.(Ilustrasi foto Pixabay)
 
Karya: Hw Hp

DICERITAKAN pada kisah sebelumnya, Dirman bertemu seorang lelaki tua dengan sebatok minuman teh tawar, berniat menanyakan keberadaan Rangga di Kampung Taringgul. Berikut ini lanjutannya.

“Permisi, Kek!” Dirman membungkuk  di depan pintu pagar.

“Masuklah dulu, Nak,” pintanya.

“Tidak lama, Kek. Saya hanya ijin bertanya.”

“Baiknya masuk dulu dan minum teh hangat. Anak pasti merasa haus,” ujarnya menawarkan.

‘Kenapa dia tahu?’ pikirnya. “Terimakasih, Kek. Saya mau nanya, betulkan ini Kampung Taringgul?”

“Betul, Nak.”

“Kakek mungkin tahu, dimana rumahnya Rangga?”

“Rangga?”

“Rangga Arya, Nak?”

“Betul kek.”

“Masih terus maju, belok kiri, akan terlihat pohon mahoni. Tidak jauh dari situ,” terangnya.

“Baik, Kek. Terimakasih,” Dirman kembali membungkuk seraya melanjutkan perjalanan.

“Kasihan, nih, anak, mudah-mudah tidak tergoda,” gumam si Kakek menatap punggung Dirman yang telah kembali melaju di atas motornya.

“Belok kiri,” gumam Dirman. “O, itu barangkali. Hanya ada satu rumah,” menghentikan motornya di depan pintu pagar pinggir jalan.

Dirman mengeser pintu pagar yang terbuat dari belahan bambu yang disusun menyerupai pagar, lalu menginjak jalan yang terbuat dari batu kerikil.

Jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu depan rumah kayu yang berukuran sedang, terhenti setelah tepat berada di depan bangku bambu depan pintu.

“Permisi!”

Tidak lama kemudian terdengar suara kaki melangkah pelan menuju pintu depan, terbuka perlahan, seorang lelaki seumuran Dirman mendongak.

“Dirman!”

“Rangga,” bergegas mendekat. “Jauh banget rumahmu,”

“Ayo masuk!” ajak orang yang dipanggil Rangga. (bersambung)