![]() |
| Ilustrasi (sumber foto Pixabay) |
Karya: Hw Hp
DICERITAKAN pada kisah sebelumnya, betapa kagetnya Dirman, setengah loncat keluar dari halaman rumah. Lalu melirik kanan kiri mencari pemilik suara.
“Tidak perlu takut, Mas,” lirih.
“Maaf, kaget,” takutnya seketika sirna. Ketika tatapan matanya menyentuh paras cantik. Senyumnya membuat jantung berdegup kencang.
“Lho, kenapa mesti kaget. Mas, kira aku ini hantu?” wajah pucatnya tersorot lampu gantung, makin menawan tatkala senyumnya kembali dilemparkan. “Bukannya, Mas. Mampir ke mari sekedar ingin beristirahat sejenak?”
“Lhah, kok tahu?” bulu kuduk mendadak bangkit.
“Tahulah!” berdiri berhadap-hadapan. “Tidak hanya, Mas, yang menepi ke sini karena takut melakukan perjalanan malam.”
“O, jadi betul,”
“Betul, hampir sama alasannya orang-orang yang menepi ke mari,” anggukan kepala. Rambut ikal panjang sepunggung tertiup angin, wanginya mengusik hidung Dirman.
“Harum bunga melati,” gumamnya heran. Seiring rasa takutnya yang mulai menyelinap ke dalam pikiran.
“Jangan berpikiran yang bukan-bukan, Mas. Saya memang suka bunga melati,” mempersilajkan masuk.
Dirman, belumlah menggerakan tubuhnya. Sejenak mematung. Tidak habis pikir apa mungkin perempuan itu bisa mendengar ucapannya? Padahal sekedar bergumam.
“Lha, jangan heran, Mas. Aku hanya membaca gerak bibir,” membuyarkan lamunan.
“Ma, maaf, pantas saja,” baru mengangkat kaki kirinya mengikuti peribumi yang mendahului masuk.
“Silahkan duduk, Mas!” melirik ke arahnya yang masih mematung di lubang pintu. “Tutup saja pintunya biar tidak dingin,” kembali membelakangi.
“Baik,” Dirman perlahan duduk.
“Maaf tidak ada kursi,” meneruskan langkahnya tanpa kembali menoleh.
“Tidak mengapa,” Dirman hanya mengangguk. Perlahan menjatuhkan pantatnya di atas hamparan tikar anyaman daun pandan.
Pribumi, terus bergerak ke ruangan yang berbeda, tanpa berbalik ke belang. Menuju sebuah pintu, entah kamar atau ruang tengah. Pintunya hanya terbuka sedikit, kemudian tertutup kembali berbarengan dengan lenyapnya pemilik rumah di baliknya.
Dirman, menghela napas. Tatapan matanya merayapi keadaan ruangan yang tidak terlalu besar, mungkin ruang tamu?
Hanya dalam hati pertanyaan itu tersimpan. Di ruang itu hanya selembar tikar pandan, lampu minyak menempel di dinding. (bersambung)
