Ilustrasi (sumber foto Pixabay)
Karya: Hw Hp
DIRMAN benar-benar ketakutan. Bulukuduknya semakin terasa menebal, keringat dingin mulai mengucur deras.
Bukankah ketika itu malam hari? Udara pun terasa teramat sangat dingin, ditambah lagi hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Kendaraannya semakin cepat dipacu tidak menoleh kanan-kiri lagi, tujuannya ingin segera terbebas dari jalur sepi itu.
“Moga-moga saja setidaknya aku menemukan perkampungan. Tak apa aku menemukan rumah, sekedar obat kesepian dan dingin,” gumamnya.
Pikirannya terus berkecamuk mengingat apa yang tadi lihat, kembali rasa takutnya menghampiri. Sehingga menyalahkan diri sendiri, kenapa mau-maunya lewat sana malam-malam bukankah masih ada besok.
“Walau kembali, sama aku akan melewati jalan tadi yang ada? Iyyy,” matanya menatap lurus ke depan searah dengan lampu besar motornya.
Tidak lama berselang di arah yang akan dilewatinya nampak ada cahaya, sepertinya lampu. Motor semakin dipercepat ingin segera menuju arah cahaya.
“Moga-moga saja rumah penduduk,” gumamnya.
Semakin mendekat, semakin jelas, di sebelah kanan jalan nampak sebuah rumah dengan lampu gantung di halamannya.
“Kebetulan,” kemudian membelokan motornya, mendekati halaman.
Rumahnya tidak terlalu besar, setidaknnya bisa sekedar untuk menumpang sejenak, menghilangkan rasa takut dan sunyi.
Perlahan dirinya menggeser pintu pagar halaman yang terbuat dari bambu. Lalu mengucapkan kata permisi.
Belum juga ada yang keluar untuk membukakan pintu. Dirman kemudian mengintip jam yang melilit di lengannya.
“Jam 22.WIB, mungkinkah penghuninya sudah pada tidur,” ujarnya pelan.
“Belum juga, Kak,” tiba-tiba terdengar suara perempuan.
Betepa kagetnya Dirman, dirinya satengah loncat keluar dari halaman rumah. Lalu melirik kanan kiri mencari pemilik suara. (Bersambung...)
