![]() |
| “Di mana rumah, Rangga?” menghentikan kendaraannya di depan salah satu rumah panggung, berdinding anyaman bambu.(Ilustrasi foto Pixabay. |
Karya: Hw Hp
DICERITAKAN pada kisah sebelumnya, Dirman dipersilahkan masuk pemilik rumah sederhana di tepi jalan. Dia sempat merasa heran dengan keadaan rumah dan bau bunga melati yang sempat membuat bulu kuduknya berdiri.
Lumayan lama Dirman duduk di atas tikar pandan. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pintu ruangan berbeda dimana penghuni rumah menghilang.
“Kemana dia?” gumamnya.
Kembali menoleh, belum juga kembali. Malam semakin larut, rasa kantuk mulai mengusik, berkali-kali Dirman menguap.
Mata semakin terasa berat. Bau kembang melati kembali menyentuh hidungnya, tetapi kantuk lebih kuat dari segalanya, akhirnya tertidur.
Udara terasa semakin dingin, ditambah lagi tiupan angin lembut seakan-akan menembus tulang, tebalnya jaket tidak sanggup menangkis.
***
Esok hari. Hangatnya matahari mulai terasa, Dirman pun bangun. Namun sejak semalam hingga kembali pagi dirinya tidak sempat lagi bertemu dengan pemilik rumah.
Karena harus meneruskan perjalanan, dirinya hanya bilang berpamitan saja dengan suara agak ditinggikan.
Setelah itu menghidupkan motornya dan pergi. Kembali menyusuri jalan menuju Kampung Taringgul, terkadang tidak mulus.
Pukul 08.25 WIB. Dirman sudah memasuki gerbang Kampung Taringgul yang di tujunya, terlihat anak-anak kecil bermain di depan rumah.
Halaman mereka rata-rata tidak terlalu sempit, jarak dari satu rumah ke rumah lain agak berjauhan, penduduk lansia ada yang duduk-duduk di depan rumah.
Rumah mereka rata-rata terbuat dari bambu anyaman, memiliki gelodok (semacam tempat duduk depan pintu rumah yang terbuat dari bambu).
“Di mana rumah, Rangga?” menghentikan kendaraannya di depan salah satu rumah panggung, berdinding anyaman bambu.
Dirman turun dari kendaraan, menghampiri lelaki tua yang tengah duduk di atas gelodok rumahnya, di sampingnya diletakan sebatok (cawan yang terbuat dari cangkang kelapa) air teh tawar. (bersambung)
